Strategi Content Marketing

1. Memahami 3 Tujuan dari Konten

Seperti prinsip content markerting , konten bertujuan untuk:

  1. Mendatangkan pengunjung
  2. Meningkatkan kepercayaan
  3. Penjualan

Perlu anda ingat bahwa konten tidak hanya untuk mendatangkan pengunjung, dan sebuah konten tidak bisa digunakan untuk 3 tujuan tersebut sekaligus. Konten untuk mendatangkan pengunjung berbeda dengan konten untuk penjualan. Jika website anda dipenuhi oleh konten-konten yang mendorong pengunjung untuk membeli, hasilnya lebih buruk daripada kalau tidak ada konten sama sekali.

2. Mengenali Audiens atau Target Pasar Anda

Kalau kita pikir sekilas, memang agak aneh…

…ingin bisa menjual, tapi kita justru buat konten yang tidak menjual.

Ini alasannya:

Coba ingat terakhir kali anda menggunakan Google Search.

Apa yang anda cari?

Biasanya yang paling sering yaitu informasi, atau panduan untuk menyelesaikan masalah, ada juga yang memang ingin membeli sesuatu.

Tapi yang berniat membeli barang itu cuma sedikit.

Jaman sekarang informasi sudah dimana-mana, sebelum membeli sesuatu kita biasanya mencari informasinya dulu lewat internet. Supaya tahu mana yang terbaik.

Jadi fokus kita adalah membantu mereka menyelesaikan masalah.

 Prinsip content marketing: membantu menyelesaikan masalah dulu, baru menjual

Dari sini mereka akan mengenal kita, percaya dengan kita, dan akhirnya menggunakan produk kita.

Masuk akal kan?

Berarti sekarang kita harus menyediakan konten yang menyelesaikan masalah (yang berhubungan dengan apa yang kita jual). Supaya tahu masalahnya, kita harus “kenal” dengan mereka.

Cara mengenalnya?

Dengan membuat buyer persona.

Buyer persona adalah representasi semi-fiktif yang menggambarkan kustomer ideal berdasarkan riset pasar dan data dari kustomer anda.

Ribet ya?

Sederhananya begini:

Misalkan saya menjual susu bayi. Saya ingin membuat konten yang tepat untuk para pembeli.

Untuk itu saya perlu tahu siapa sih orang-orang yang biasanya membeli produk ini? Umurnya kira-kira berapa, perilaku sehari-harinya bagaimana, apa permasalahan mereka?

Kita kumpulkan semua informasi tersebut, jadikan sebuah karakter.

Itulah buyer persona.

Lebih lengkapnya mengenai data yang diperlukan:

  1. Pekerjaan: jabatan dan deskripsi pekerjaan
  2. Biodata: umur, perkiraan penghasilan, pendidikan, keluarga
  3. Hobi, rutinitas, ketertarikan, perilaku ber-internet
  4. Ambisi (tujuan) dan halangan/tantangan
  5. Apa yang bisa anda bantu untuk mencapai tujuan

Dengan begitu kita bisa membuat konten yang pas buat mereka.

Untuk mempermudah, data-data tadi kita tuangkan dalam sebuah tabel, seperti ini:

Buyer Persona

Sekarang kita jadi tahu konten apa yang harus kita sediakan.

Bandingkan dengan kalau anda tidak punya bayangan sama sekali siapa yang akan anda pancing. Konten yang kita buat akan jadi ngawur dan tidak menarik bagi target pasar kita.

Maka dari itu, sekarang silahkan buat buyer persona anda.

3. Buat Perencanaan & Pemetaan Konten

Pisahkan jenis konten menjadi 3:

  1. Konten pengenalan
  2. Konten branding
  3. Konten penjualan

contoh: saya punya bisnis menjual tiket pesawat

  • Pengenalan: “50 tujuan wisata terpopuler di Asia Tenggara”
  • Pengenalan: “Cerita berlibur ke Singapura dengan biaya kurang dari 1 juta”
  • Branding: “Persiapan berlibur ke luar negeri”
  • Branding: “Perencanaan budget berlibur ke Singapura”
  • Penjualan: “Panduan menemukan tiket pesawat murah”

Anda dapat melihat perbedaannya, dalam konten pengenalan kontennya bisa dinikmati oleh banyka orang meskipun saat ini mereka tidak sedang ingin membeli tiket liburan. Siapapun, kapanpun bisa menikmati.

sedangkan konten brandig sudah lebih fokus, hanya bisa dinikmati oleh mereka yang ingin berlibur tapi tahap ini belum melakukan penjualan. Fungsinya adalah supaya mereka ingat dengan kita, saat mereka butuh, mereka akan cari konten itu.

Kemudian dari sana kita arahkan ke konten penjualan yang mengandung penawaran kepada mereka untuk membeli atau menggunakan layanan kita.

Ketiga konten tersebut sangat penting dan berkaitan erat, sehingga anda tidak boleh melewatkan salah satunya.

4. Memahami Strategi Pembuatan Konten

Piramida strategi konten

Dilihat dari proses pembuatannya, konten pengenalan punya tingkat kesulitan paling rendah sedangkan konten penjualan memiliki tingkat kesulitan tertinggi.

Maka dari itu jumlahnya menyesuaikan tingkat kesulitan.

Selain itu, seperti yang sudah dijelaskan tadi, konten pengenalan dan branding memang semestinya lebih banyak daripada penjualan.

Ini karena sesuai dengan prinsip content marketing dimana kita harus lebih banyak melakukan edukasi dan menyelesaikan permasalahan dibandingkan menjual.

Yang perlu anda perhatikan:

Konten branding dan penjualan akan berdampak langsung pada penjualan. Kualitasnya HARUS tinggi.

Sedangkan konten pengenalan harus dibuat supaya bisa jadi populer.

Satu hal lagi…

…kita ingin supaya beberapa orang yang datang ke konten penjualan akhirnya ingin membeli (entah langsung atau tidak langsung).

Jadi, dari konten pengenalan sebaiknya ada link seperti ini:

Strategi Internal Link

Di dalam konten pengenalan anda terdapat link menuju konten branding. Tujuannya supaya mereka tahu bahwa anda punya sesuatu untuk mereka.

Kalau tidak, maka sebagian besar akan langsung pergi tanpa menyadari bahwa anda menjual sesuatu.

Mengenal tipe-tipe konten

Sejak awal artikel ini saya berbicara mengenai konten, tapi mungkin beberapa dari anda masih menganggap konten = artikel.

Artikel itu salah satu jenis konten, dan konten bukan cuma artikel.

Ini tipe-tipe konten:

  • eBook
  • Action list/lembar kerja
  • Tool (biasanya berupa program/app)
  • Template
  • Studi kasus/analisa
  • Infografis
  • Slide presentasi
  • Video
  • Webinar
  • Artikel blog
  • Post di social media

Umumnya, konten pengenalan itu artikel, video, dan social media.

Tipe konten seperti eBook, studi kasus, infografis, dan yang lainnya memang lebih sulit dibuat daripada artikel biasa tapi sangat efektif kalau anda manfaatkan sebagai konten branding.

Beberapa panduan terkait pembuatan konten

Karena pembuatan konten memiliki bidangnya sendiri, akan jadi sangat panjang kalau dibahas dalam satu artikel ini. Maka anda sebaiknya membaca beberapa panduan berikut.

Panduan-panduan ini bermanfaat untuk menciptakan konten yang menarik dan teroptimasi.

5. Lakukan distribusi konten

Banyak orang yang menganggap langkah 4 sudah selesai.

Kalau kita sekarang masih di tahun 2008 sih wajar, karena pada waktu itu hanya ada sedikit konten di internet.

Tapi sekarang, ada 2 juta konten baru per hari yang diterbitkan.

Mustahil konten anda bisa ditemukan kalau bukan anda yang keluar untuk mendistribusikan konten itu.

Tanpa melakukan distribusi, konten sebagus apapun tidak akan pernah populer

Ini tahapan mendistribusikan konten:

  1. Pastikan anda sudah memiliki konten yang luar biasa. Mempromosikan konten yang tidak berkualitas justru akan merusak reputasi anda
  2. Install alat bantu analisa seperti Google Analytics
  3. Sediakan metode untuk “menangkap” pembaca, lakukan email list building
  4. Terakhir, ini intinya: pelajari metode promosi konten yang benar

6. Ukur dan analisa hasil kerja

Belum selesai. Satu lagi, ini langkah terakhir.

Bagaimana cara supaya anda bisa mengetahui performa konten anda? Bagaimana anda bisa memperbaiki performa yang kurang baik?

Dengan menggunakan alat ukur untuk mendapatkan angka-angka yang berpengaruh.

Segala hal yang kita lakukan dalam pemasaran online harus terukur. Begitu pula dengan pemasaran konten.

Jadi kalau anda belum menginstall alat ukur, segera lakukan.

Yang termudah dan gratis yaitu Google Analytics.

Apa yang kita ukur?

Tergantung tipe kontennya. Karena tiap konten memiliki tujuan yang berbeda-beda, maka hasil yang anda harapkan juga berbeda-beda.

Tolak ukur keberhasilan untuk konten pengenalan:

  1. Jumlah visitor
  2. Jumlah share ke social media
  3. Jumlah backlink

Tolak ukur keberhasilan untuk konten branding:

  1. Jumlah subscriber
  2. Tingkat konversi pelanggan
  3. Jumlah follower di akun jejaring social

Tolak ukur keberhasilan untuk konten penjualan:

  1. CTR menuju landing page/halaman penjualan
  2. Pendapatan
  3. Tingkat konversi penjualan
  4. ROI, perbandingan antara biaya yang dikeluarkan untuk konten dengan pemasukan yang didapatkan dari konten

Inilah beberapa contoh yang harus anda ukur, dan hampir semuanya bisa diketahui dengan Google Analytics.

Tanpa mengetahui ini artinya anda buta dengan bisnis anda sendiri.

Advertisements